Beranda > Politik > PERKEMBANGAN KONDISI POLITIK DI INDONESIA

PERKEMBANGAN KONDISI POLITIK DI INDONESIA

poli 

JAKARTA, KOMPAS.com – Peneliti senior Burhanuddin Muhtadi mengatakan, dari temuan Lembaga Survei Indonesia (LSI) selama 1-12 Februari 2012, secara umum menunjukkan kondisi politik nasional mengalami keterpurukan.

Dalam survei itu, responden diminta pendapatnya mengenai kondisi politik di Tanah Air. LSI mencatat, hanya 20,9 persen responden yang menyatakan situasi perpolitikan Indonesia berada dalam kondisi baik, adapun 2,0 persen lainnya menilai sangat baik, dan 34,2 persen menyatakan sedang atau normatif.

Sementara itu, jumlah responden yang melihat kondisi politik Indonesia kini memburuk mencapai 27 persen, sangat buruk 6,8 persen, dan jawaban tidak tahu kondisi politik mencapai 9,0 persen.

"Penilaian rakyat atas kondisi politik nasional secara umum saat survei dilakukan menunjukan lebih banyak yang mengatakan buruk atau sangat buruk dibanding mengatakan sebaliknya, baik atau sangat baik," ujar Burhanuddin dalam jumpa pers di Jakarta Pusat, Minggu (19/2/2012).

Penilaian rakyat terhadap politik yang negatif tersebut, kata Burhanuddin, merupakan basis sosial bagi perubahan politik pada pemilu 2014. "Ini menjadi opportunity bagi partai untuk membenahi partainya dalam merebut suara konstituen," imbuhnya.

Kondisi politik yang memburuk ini juga diakui oleh Politisi Partai Amanat Nasional, Bima Arya. Menurutnya, kepercayaan sebagian masyarakat menurun akibat dari kasus korupsi yang melibatkan politisi. Jika partai politik ingin menarik kembali minat masyarakat pada politik, maka parpol perlu memberikan program yang menyentuh langsung pada rakyat.

"Karena masyarakat berpikir semakin rasional dan pintar, mereka semakin memperhatikan mana parpol yang berprestasi secara riil, mana yang hanya retorika, mana yang harus diapresiasi. Mana yang paling banyak isu korupsi. Partai harus tunjukkan langkah nyata untuk masyarakat jika ingin situasi politik dan kepercayaan masyarakat kembali terbangun," jelasnya.

"Jangan pilih yang selebritis, kadang nanti dipilih rakyat karena terkenal saja. Trennya memang menurun karena rakyat juga semakin kritis melihat apa yang terjadi dalam pemerintah dan dunia politik. Ke depan rekrutmen anggota partai harus yang bekerja keras dan kredibel agar masyarakat percaya tanggung jawab yang diberikan tidak sia-sia," kata Marwan.

Survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan, sebagian responden memercayai bahwa Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum terlibat dalam kasus dugaan siap proyek wisma atlet Sea Games. LSI melakukan survei terhadap 1200 responden dari 33 provinsi medio 21 Januari-2 Februari 2012 dengan metode multi stage random sampling. Sebesar 39,4 persen responden meyakini Anas terlibat. "Margin of error plus minus 2,9 persen," kata peneliti LSI, dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu (5/2/2012).

indexkor imagesmk

Pertanyaan yang diajukan kepada para responden adalah "Apakah sejumlah petinggi Partai Demokrat, yakni Anas, Muhammad Nazaruddin, Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng, dan Mirwan Amir terlibat kasus dugaan suap wisma atlet?".
Terkait Nazaruddin, sebanyak 52,1 persen responden percaya bahwa mantan

Bendahara Umum Partai Demokrat itu terlibat. Adapun Andi Mallarangeng yang kini menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga, dianggap terlibat oleh 31,9 persen responden. Angelina Sondakh dianggap terlibat oleh 37,2 persen responden, dan 28,3 persen menilai Mirwan Amir terlibat. Menurut Barkah, "Pandawa Lima" Partai Demokrat ini menjadi salah satu faktor penyebab turunnya dukungan publik terhadap Partai Demokrat.

Pada survei yang dilakukan Januari-Februari 2012 ini, Demokrat berada di posisi ke-3 setelah Partai Golkar dan PDI Perjuangan. "Dukungan Partai Demokrat kini hanya 13,7 persen, dibawah PDI Perjuangan (14,2 persen), dan Golkar (18,9 persen)," katanya.

Dari lima nama petinggi Partai Demokrat itu, Nazaruddin dan Angelina ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai tersangka kasus dugaan suap wisma atlet.

Dengan hasil survey seperti di tatas maka terlihatlah semakin cerdasnya masyarakat Indonesia ini,untuk melihat mana elit-elit partai yang tidak jujur dan hanya mementingkan kepentingan pribadi,golongan ataupun kelompoknya.

Kategori:Politik
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: